Jro Dalang Made Sri, Dalang Perempuan Asal Desa Patemon

Redaksi Singaraja FM 26/05/2017 0

Jro Dalang Made Sri

SINGARAJAFM.COM,- Made Sri nampak kebingungan ketika wartawan bertandang ke rumahnya, namun ketika dijelaskan maksud kedatangan, ia nampak begitu ramah dan hangat menerima wartawan sebagai tamu. Untuk menemukan rumahnya, kita harus masuk ke jalan yang diapit setra Desa Patemon, Seririt. Tidak jauh setelah melewati Pura Dalem desa setempat, jika menemukan rumah pertama itulah kediaman Made Sri. Sore itu, pintu pagar rumahnya sudah ditutup, pertanda pasien yang ingin berobat harus kembali esok pagi. Made Sri setiap harinya membantu suami melayani pasien yang mengalami berbagai masalah dengan tulang seperti patah tulang, tulang lepas, maupun keseleo. Maklum, suami merupakan Balian yang cukup tenar dibidang penyembuhan tulang.
Berbeda dengan sang suami, Made Sri sendiri memiliki profesi yang begitu unik. Jika pada umumnya profesi dalang dilakoni oleh kaum pria, maka tidak berlaku bagi perempuan yang akrab di sapa Jro Dalang Made Sri ini. Lahir di Patemon yang banyak melahirkan seniman-seniman utamanya dalang membuat Jro Dalang nampak begitu istimewa. Pasalnya, dari sekian banyak dalang, dialah dalang istri satu-satunya.

Dibalik ketenarannya, ada kisah magis yang sulit diterima nalar namun begitu adanya. Sebelum menjadi seorang dalang, Made Sri yang sehari-hari menjadi petani bahkan ogah menonton wayang apalagi menjadi dalang. “Saya ga pernah kepikiran apalagi saya ini belog mending jadi petani aja,” ujarnya dengan polos. Berawal dari sekeluarga mengalami sakit yang tidak wajar selama bertahun-tahun, hingga akhirnya sang suami memohon petunjuk kepada Ida sesuhunan. “Suami ngiring Dewa Bagus Manik Dalang, karena sudah menyatakan kesediaan untuk ngayah maka suami juga harus ngayah menjadi dalang. Tapi karena tidak bisa akhirnya, tiang sebagai istri lah yang ditunjukkan untuk ngayah,” tuturnya kala itu.

Setelah diberi air suci basuan Dewa Bagus Manik Dalang, dirinya mengaku menjadi “gila”. Setiap hari ia selalu ngoceh tentang cerita pewayangan, padahal sama sekali ia tidak tahu dan tidak pernah belajar mengenai pewayangan. “Akhirnya saya Mawinten dan mulai iklas menjadi pengayah,” ungkapnya. Lima tahun terakhir ini ia telah beberapa kali pentas terutama di sekitar Desa Patemon dan Buleleng.

Perempuan kelahiran 7 Juli 1968 ini mengaku ketika muput acara dalam upacara keahlian sebagai dalang muncul begitu saja bahkan ia mengaku setengah sadar ketika melakoni profesi itu. “Sudah ga ada rasa malu lagi padahal ditonton banyak orang,” imbuhnya. Uniknya lagi, karakter pewayangan yang kebanyakan laki-laki dapat ditirukan sangat apik dari segi suara. Bahkan dalam pementasan dirinya selalu menggunakan pakem pewayangan salah satunya menggunakan bahasa Kawi. “Tujuaanya untuk mengingat bahasa pewayangan yaitu bahasa Kawi agar mendarah daging,” ungkapnya. Akan tetapi, beberapa tahun belakangan dirinya juga telah mencoba menyelipkan humor segar sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan di masyarakat. Humor yang diselipkan bisa berupa situasi Politik, hukum, dan sosial. “Ya selain jalan cerita pewayangan saya juga sedang belajar menyelipkan humor tentang keadaan dimasyarakat, ya tentunya dengan jalan membaca,” ungkapnya.

Menjadi seorang dalang istri, bukan berarti tidak ada tantangan. Sikap cekatan seorang dalang harus mampu dikuasai olehnya ketika menyiapkan berbagai karakter dengan memadukan cerita dan juga suara dari masing-masing karakter. Selain itu, karena terbilang unik, tidak jarang ketika pentas, Jro Dalang menjadi bulan-bulanan penonton. “Mereka malah nonton saya, ketimbang menikmati cerita wayangnya,” pungkasnya penuh tawa. (kmb/sgr)

Leave A Response »