Tangani Pasutri Miskin di Pemuteran,Plt. Bupati Tawarkan Dirawat di Panti Jompo

Redaksi Singaraja FM 23/01/2017 0

Pasutri Miskin – Plt. Bupati Buleleng Made Gunaja mengunjungi pasangan suami istri (pasutri) Nengah Ramban (80) dan Nyoman Sasih (70) warga Dusun Kembang Sari, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak.

BULELENG,singarajafm.com,- Kondisi memperihatinkan yang dialami pasangan suami istri (Pasutri) Nengah Ramban (80) dan Nyoman Sasih (70), Warga Dusun Kembang Sari, Desa Pemuteran Kecamatan Gerokgak mendapat perhatian serius Pemkab Buleleng. Ramban dan Sasih yang kini hidup serba kekurangan itu ditawarkan untuk dirawat di Panti Jompo Jara Marapati di Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar. Selain itu, Dinas Sosial diperintahkan untuk segara mengurus hak-hak keduanya selaku penyandang warga kurang mampu.

Demikian terungkap saat Plt. Bupati Buleleng Made Gunaja mengunjungi rumah Ramban dan Sasih di Pemuteran Minggu (22/1). Saat berkunjung, Gunaja bersama istrinya dan didampingi Kepala Dinsos Gede Komang bersama aparat kecamatan dan pemerintahan desa.

Selain mengunjungi Ramban dan Sasih, Plt. Gunaja juga mengunjungi lansia terlantar Ni Ketut Kiri dan Ketut Bali warga Dusun Pengumbahan Desa Pemuteran Plt. Gunaja menyerahkan paket sembako untuk membantu meringankan kebutuhan hidup lainsia terlantar ini.

Saat menemui Ramban dan istrinya Sasih, Plt. Gunaja tidak bisa menyembunyikan keprihatinannya. Perhatian tertuju pada kondisi rumah yang tidak layak huni dan lingkungan buruk dan rentan memicu penyakit menyerang keduanya. Pasalnya, atap rumah sebagian sudah ambruk karena dimakan usia. Ketika hujan, genteng bocor dan lantai rumah kebanjiran.
Selain kondisi rumah, Plt. Gunaja terenyuh setelah melihat peralatan dapur yang sangat kurang. Di ruang dapur hanya ada panci, pengorengan dan beberapa piring yang sudah penyok. Sementara tungku api hanya ada bekas batang kayu bakar yang berusaha digunakan ketika Ramban dan Sasih memasak nasi atau sekedar menghangatkan tubuh ketika malam hari.

Usai berkunjung, Plt. Made Gunaja mengatakan, kemiskinan di Buleleng tidak bisa ditangani hanya mengandalkan pemeirntah saja. Namun penanganan sosial ini membutuhkan partisipasi pihak dermawan atau pihak suwasta lainnya. Partisipasi ini tidak saja dalam bentuk barang atau materi, namun informasi yang menemukan warga miskin atau terlantar sangat diharapkan, sehingga dari informasi itu, pemeirntah bisa melakukan upaya penanganan secara optimal. “Saya menemui pasutri ini dan setelah melihat memang kondisinya memprihatinkan. Ini masalah serius dan perlu penanganan bersama antara pemerintah dan pihak lain,” katanya.

Menurut Plt. Gunaja, untuk penanganan jangka pendek, pihaknya menawarkan agar Ramban dan istrinya Sasih bersedia untuk menempati Panti Jompo milik pemerintah di Desa Kaliasem. Upaya ini karena keduanya tidak lagi memiliki kerabat. Bahkan, anak-anaknya meninggalkan untuk pindah agama. Sehingga keselamatan dan kesehatan keduanya akan lebih terjamin jika dirawat di Panti Jompo.
Upaya lain, Plt. Gunaja menginstruksikan agar Dinsos segara mengurus hak-hak Ramban dan Sasih sebagai warga kurang mampu dan terlantar. Hak itu mulai dari mendaftarkan yang bersangkutan agar mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan didaftarkan sebagai warga penerima jatah beras miskin (raskin-red). ‘Saya minta Dinsos segara mengurus semua hak-hak sebagai orang miskin untuk keduanya, sehingga kemiskinan yang dialaminya itu tertangani secara optimal,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinsos Gede Komang mengatakan, untuk proses perawatan di Panti Jompo pihaknya siap akan memfasilitasi. Selain itu, pendaftaran untuk mendapatkan KIS atau jatah beras miksin, Dinsos akan mengurus mengikuti mekenisme yang ada. Selain itu upaya itu, Dinsos akan mengupayakan untuk mengusulkan yang bersangkutan untuk mendapatkan bantuan bedah rumah. Ini sangat penting karena kondisi rumah pasutri miskin ini sejak beberapa bulan terakhir harus menempati rumah yang nyaris ambruk. Jika tidak segara diupayakan perbaikan rumah, pihaknya khawatir akan mengancam keselamatan Ramban dan istrinya Saih.

Seeprti dibertakan sebelumnya, Nengah Ramban (80) dan Nyoman Sasih (70) hidup dalam kondisi memprihatinkan. Pasutri malang ini hidup dengan mengandalkan uluran dermawan dan sumbangan warga yang prihatin dengan kondisinya. Tidak hanya kebutuhan sehari-hari, Ramban dan Sasih tinggal di rumah yang nyaris roboh karene atap kayunya sudah lapuk. Bahkan, jika hujan, pasturi ini nekat tidur di luar rumah hanya berlindung di bawah pohn rimbun. Mirisinya lagi, anak-anaknya yang semula mengurus kini sudah meninggalkan dan memilih pindah ke agama lain.(sgrfm)

Leave A Response »